Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Pindah Rumah dan Pindah Sekolah yang Kedua Kali, serta Permasalahan yang Menyertainya


Pindah rumah kembali kedua kalinya


Pindah rumah kembali
Sumber: F. Muhammad, pixabay.com

Setelah wafatnya ayah dari suami pada tahun 2006, dan semakin menurunnya kesehatan ibu mertua, maka pada tahun 2012, keluarga suami memutuskan ibu akan dirawat oleh kakak ipar, dan rumah akan dijual.  Oleh sebab itu, kami harus segera pindah rumah kembali.  Pilihan kami, adalah kembali tinggal di daerah Jakarta Timur, di dekat rumah orang tua saya, karena wilayah tersebut memiliki akses transportasi yang lengkap.  Dekat dengan halte Trans Jakarta, stasiun kereta api, ada alternatif angkutan kota, serta dekat pula dengan pasar!
Kembali kami harus mengurus perpindahan sekolah, dari Jakarta Selatan ke Jakarta Timur!  Jauh hari sebelum pindah, kami telah memberitahukan rencana kepindahan ini, berikut alasan mengapa harus pindah.  Banyak pertanyaan yang mereka lontarkan tentang rencana kepindahan ini, khususnya dari Aulia dan Zikri, yang kami jawab dengan jawaban yang sederhana dan jelas sesuai pemahaman mereka.
Urut-urutan pengurusan surat pindah sekolah dari surat pindah SD di Tebet, ke suku dinas Jakarta Selatan, dinas pendidikan Jakarta, baru kemudian ke SD yang dituju.  Kali ini, hanya Aulia dan Zikri yang pindah sekolah, karena Rahmi sudah bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Berstandar Internasional di Jakarta Timur, setahun sebelumnya.  Karena pada saat Rahmi akan masuk SMP, sudah ada rencana tentang penjualan rumah ibu mertua, sehingga langsung saja kami daftarkan Rahmi di sekolah ini.
Kami membeli rumah berjarak beberapa meter dari rumah ibu saya.  Hal ini agar memudahkan kami untuk menitipkan anak-anak sepulang sekolah ke ibu saya. 

Masa adaptasi dengan teman-teman di sekolah baru

Ketika pindah ke SD yang baru inilah, terjadi beberapa peristiwa yang menandakan bahwa Zikri merasa tak nyaman bersekolah di SD-nya dan ia kurang mampu beradaptasi di lingkungannya.  Dalam dua minggu pertama bersekolah, ia beberapa kali bolos sekolah, padahal dari rumah sudah rapi dan berangkat sekolah, ketika saya pergi bekerja!  Aduh, saya jadi waswas, kemana Zikri, kalau tidak bersekolah? 
Saya tahu hal tersebut, karena dipanggil oleh guru wali kelasnya.  Ketika saya menemui gurunya tersebut, maka Zikri pun ikut dipanggil menemui kami.  Ternyata Zikri tidak betah di kelasnya, karena teman-temannya berbicara kasar dan kotor, serta suka merendahkan dirinya, ia di-bully!   Setelah tahu permasalahannya, maka gurunya pun menyetujui untuk meng-clearkan masalah dengan teman-teman Zikri tersebut.  Memang, berbeda dengan teman-temannya di sekolah sebelumnya yang lebih sopan dan tak pernah berkata kasar maupun kotor, maka Zikri dan Aulia kaget dengan kenyataan tersebut!

Membekali anak-anak dengan kemampuan bela diri dan menghadapi bully

Mereka berdua pun sepakat untuk bolos sekolah dan membawa baju ganti sebelumnya dari rumah (cerdas bukan?).  Kesepakatan ini, bahkan baru saya ketahui setelah 8 tahun berlalu!   Saya hanya tahu Zikri yang bolos sekolah!  Beberapa kali Zikri dijahili oleh teman-temannya, dan saya pun rajin menemui wali kelasnya untuk meluruskan permasalahan.  Akhirnya ada guru yang memperingatkan saya, agar jangan sering-sering mengadu ke wali kelas!  
Saya hanya diam mendengar perkataan guru wanita tersebut, tetapi saya berjanji, akan menyuruh Zikri belajar bela diri, agar bisa membela diri sendiri dari gangguan teman-temannya!
Setelah saat itu, ketika Zikri mengadu tentang teman-teman yang membully-nya, saya pun bilang kepadanya,”Balas saja perbuatan temanmu.  Kamu harus mampu membela diri, Nak!  Kamu kan laki-laki!”  Memang sepertinya pendidikan yang kurang baik, tetapi memang anak-anak juga harus mampu membela diri mereka sendiri untuk menunjukkan wibawa dan harga diri mereka sendiri, bukan?
Aulia dan Zikri meminta kakak ayahnya untuk mengajarkan ilmu bela diri kepada mereka.  Akhirnya, teman-teman mereka pun mulai segan kepada mereka, setelah mereka mampu membela diri terhadap perbuatan teman-temannya!

Mewabahnya warung internet (warnet) dan game online!

Memasuki tahun 2012, warung internet (warnet) mewabah di lingkungan kami, Aulia dan Zikri pun ikut tergila-gila dengan game online di warnet.   Ada sekitar 5 warnet di sekeliling rumah kami!  Bahkan mereka rela tak jajan, demi main game online! 
Wali kelas V Aulia, ibu Agus, bahkan sampai melakukan razia ke warnet di dekat rumah kami, beliau pun membawa Aulia yang sedang bermain game online dan bolos sekolah ke rumah ibu saya!  Aulia dan Zikri semakin larut dengan game online mereka.  Beberapa kali saya mendapati mereka di warung internet yang berbeda!
Satu keuntungan mereka, di rumah mereka sudah mendapatkan uang jajan dari kami, di rumah neneknya, mereka pun minta uang jajan ke nenek dan tantenya, dan semuanya dihabiskan untuk game online!  Aduh pusing kepala kami dengan perilaku mereka, bolos sekolah, nongkrong di taman, dan bermain game online.
Akhirnya saya, nenek, dan tantenya bersepakat, bahwa Aulia dan Zikri hanya diberikan uang jajan tambahan oleh nenek dan tantenya, jika membantu menyapu atau mengepel rumah neneknya.  Toh, mereka sudah saya berikan uang jajan, bukan?  Jadi, mereka harus memberikan effort atau usaha untuk mendapatkan uang tambahan, bukan?
Bagi Aulia dan Zikri, tak masalah menyapu atau pun mengepel, asalkan mendapatkan uang tambahan untuk bermain game online!





Mensupport anak kedua yang masuk Taman Kanak-Kanak (TK), Mendampingi dan Memberinya Kepercayaan Diri


Pertama Bersekolah di TK

Riang dan bersemangat sekolah di TK
Sumber: pixabay.com

Tibalah saatnya anak kedua saya mengikuti pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK), kami pun mendaftarkannya di TK kelas nol kecit, tempat bersekolah kakaknya sebelumnya.  Merasa riang, ketika pertama bersekolah, saya mengantarnya ke sekolah sambil menggandeng Zikri yang masih berusia hampir 2 tahun di sisi yang lain.  Di jalan, kami bertemu anak-anak yang sedang bermain bola, sambil menanti bel masuk. 
Sayangnya, salah satu anak SD mengeluarkan kata umpatan, yang sangat jelas kami dengar.  Ternyata, kata umpatan tersebut diingat dan terus diulang oleh Zikri, sampai dengan hampir sebulan lamanya, walau tak ada seorang pun di keluarga yang mengajarkannya!  Wow, ternyata Zikri memiliki kecerdasan bahasa yang baik!  Namun, kata yang cepat diingat, adalah kata yang memiliki konotasi negatif, maka selama sebulan tersebut, sibuklah saya mengalihkan perhatian Zikri, ketika mengucapkan kata tersebut, tanpa bermaksud memarahinya!
Karena menurut sumber yang saya baca, ketika kita memarahi balita untuk sebuah perbuatan atau pun perkataan negatif, maka justru ia akan semakin mengulang kata atau perbuatan tersebut!  Oleh sebab itu, kita harus mengalihkan perhatiannya dengan sesuatu yang menarik perhatiannya, setiap ia melakukan perkataan atau perbuatan tersebut!
Sesampainya di TK, Aulia sibuk bermain bermacam-macam permainan yang ada di halaman TK nya, Zikri juga bermain dan berlari, mengikuti apa yang Aulia lakukan.  Kalau sudah begini, saya ingin tertawa geli rasanya melihat polah lucu kedua bersaudara tersebut!
Aulia adalah anak yang tidak bisa diam, ia terus bergerak, berlari atau pun berjalan.  Ia memiliki rasa ingin tahu yang besar dengan apa yang dikerjakan oleh teman-temannya.  Seringkali temannya merasa terganggu dengan tindakan Aulia, walaupun ia tidak mengganggu mereka.  Kadangkala teman Aulia tersebut memukulnya, ketika ia melihat ke arah pekerjaan temannya.  Dengan reflex, Aulia pun membalas pukulan temannya tersebut. 
Nah, pada saat inilah wali kelas (walas) nya melihat tindakan Aulia yang memukul temannya, sehingga walasnya menganggap Aulia-lah yang mengganggu!

Kejadian yang tak terlupakan di TK dan pendampingan bunda serta tante


Kejadian yang terlupakan di TK
Sumber: pixabay.com

Satu kejadian yang tak terlupakan, adalah saat suatu pagi sebelum masuk sekolah, anak-anak sedang sibuk bermain, tante Aulia yang mengantarnya mendengar seorang ibu sedang marah-marah.  Terkejut dan penasaran, tantenya pergi ke arah suara.  Ternyata, Aulia sedang berdiri dengan tegang di tembok, sambil memandang takut kepada seorang ibu yang sedang memarahinya!  Ibu tersebut menunjuk-menunjuk kepada anak saya yang terpaku ketakutan di tembok kelasnya! 
Tante Aulia dengan sigap menghampiri Aulia dan menariknya menjauh dari ibu tersebut, dengan berseru,”Eh, apa-apaan ini, kok marah-marah ke anak orang?”
Ibu tersebut menjawab pertanyaan tante Aulia, sambil bergegas pergi,”Habis, dia nakal!”
Adik saya sangat marah melihat kejadian tersebut, ibu anak-anak lainnya ada yang menimpali,”Dia lagi stress masalah rumah tangga!”
Dengan kesal adik saya menungkas,”Kalau ada masalah rumah tangga, jangan dilampiaskan ke anak orang lain, dong!”
Ketika saya pulang bekerja, adik saya pun menceritakan peristiwa yang menimpa Aulia kepada saya.  Namun, Aulia kecil tidak menceritakan sedikitpun tentang peristiwa itu kepada saya.  Ternyata anak ibu tersebut adalah anak yang suka saya perhatikan ketika ke TK, ia memiliki badan yang lebih tinggi dan besar daripada anak seusianya.  Dia suka menabrakkan diri ke temannya tanpa merasa bersalah, aduh terbayang, kan, kalau ditabrak anak yang lebih besar dari kita?
Esok harinya, pagi-pagi sekali saya menemui kepalasekolah di ruangannya, seorang wanita muda yang ramah, Dwi namanya,”Assalamu’alaykum Bu Dwi.”
“Wa’alaykumsalam, Bu,” jawabnya dengan ramah.
Segera saya perkenalkan diri,”Saya mamanya Aulia, Bu.”
“Ada yang bisa dibantu, Bu?” tanya ibu Dwi kembali.
Segera disampaikan maksud kedatangan kepadanya,”Bu, kemarin ada ibu yang memarahi Aulia.  Kasihan sekali, dia sampai ketakutan!  Mengapa bisa begitu?  Bukankah kalau ada masalah, pihak sekolah yang harus mengatasinya?” rentetan kalimat pun tak terhentikan terlontar dari mulut saya.  
“Saya titipkan anak saya di TK ini untuk dididik, bukan untuk dimarahi oleh orang lain seenaknya,” rentetan kalimat selanjutnya pun terlontar kembali dari mulut saya, yang semalaman merasa kesal atas perlakuan ibu tersebut kepada Aulia!
Saya memberi penekanan pada kata ‘mendidik’, kepada ibu Dwi.
Ibu Dwi pun menjawab,”Maaf Bu, ternyata ibu tersebut sedang stress dengan permasalahan rumah tangganya.  Tetapi, kami akan segera selesaikan permasalahan ini, maaf atas ketidaknyamanan putra ibu.”
“Oke, Bu, tolong jaga kepercayaan saya kepada TK ini, terimakasih.”
Saya pun meninggalkan TK dan segera menuju ke kantor.
Hari Sabtu minggu tersebut, ketika menjemput Aulia di TK nya, sempat bertemu pandang dengan ibu tersebut, saya hanya memperhatikannya dan berbicara dalam hati,”Kasihan juga ya dengan ibu tersebut, tetapi kesal juga, karena perlakuannya kepada Aulia.”
Saya bukanlah tipe ibu yang suka ribut dengan orang lain, tetapi jangan coba-coba ganggu anak saya!  Akan saya lindungi mereka, seperti ibu harimau melindungi anak-anaknya! Auuuummmm!

Cerita tentang peristiwa tersebut 14 tahun kemudian!

Ternyata 14 tahun kemudian, ketika saya menceritakan peristiwa tersebut kembali sebagai kenangan.  Barulah Aulia bercerita hal sebenarnya, anak tersebut memang memukul Aulia, namun karena ia bertubuh lebih kecil, maka ia pun menggigitnya, sehingga ibu tersebut marah.  Namun, ia juga harus tahu bukan, bahwa sang anak yang memulai peristiwa tersebut, bukan?  Saya hanya menggeleng-geleng kepala mendengar cerita Aulia tersebut.
Satu pertanyaan saya sampaikan,”Mengapa tidak melaporkan peristiwa ibu yang marah-marah tersebut kepada Bunda?”
Jawabnya,”Takut dimarahi.”
Tidak terbayangkan, kalau tidak ada adik saya yang menyaksikan peristiwa tersebut, mungkin Aulia akan terus-menerus diperlakukan seperti itu?  Hal ini akan berakibat buruk terhadap kejiwaannya di kemudian hari, berakibat terhadap ketidak percayaan terhadap diri sendiri, minder, takut.  Kasihan sekali anak yang menderita seperti itu.  Sementara kita sebagai orang tua sudah menitipkan anak-anak untuk dididik, diberikan kepercayaan diri, berani, bertanggung jawab, dan lain-lain.

Kenali keistimewaan, selain kekurangan anak!

Aulia adalah anak yang sulit fokus, lebih senang berlari, berjalan kian kemari, dia lebih senang bergerak, karena dia memang anak kinestetis.  Khusus untuk Aulia, saya sempat mendatangkan beberapa guru les untuk mendampinginya belajar.  Dia hanya bisa konsentrasi belajar 5 menit, kemudian lari lagi, belajar lagi 5 menit, kemudian berjalan lagi kian kemari.  Seorang guru les, ibu Yuli sampai khusus membawakannya hadiah-hadiah, seperti permen, mainan, agar ia mau duduk tenang belajar.
Namun, walaupun begitu Aulia anak yang cerdas dan istimewa.  Ia suka mengamati kejadian di alam, senang bertanya tentang kejadian-kejadian di alam, dan akan terus bertanya sampai tuntas terjawab!  Dia hanya perlu sekali pergi ke suatu tempat, dan akan langsung hafal arah menuju tempat tersebut, kalau saya, sih, perlu berkali-kali pergi, agar hafal arah!
Satu hari Aulia bersama ayah dan kakak serta adiknya pergi ke rumah nenek di daerah Tebet dengan Taxi.  Sambil terus berceloteh bersama ke-2 saudaranya, ia terus memperhatikan daerah di sebelah kanan dan kiri jalan, kemudian ia pun dengan serius berbisik kepada ayahnya.
Apa yang dibisikkannya, penasaran, kan?
“Ayah, kita diculik ya sama Taksi?” bisiknya dengan suara perlahan.
“Kok, diculik?” tanya ayahnya kembali.
“Iya, jalannya beda dengan jalan yang biasa kita lewati, yah,” dengan yakin Aulia menguraikan alasannya.
Dengan tersenyum dan geleng-geleng kepala, ayahnya pun menjawab,”Tidak, Nak, kita tidak diculik.  Kita cuma lewat jalan yang berbeda menuju ke rumah nenek!” tukas ayahnya.
‘O, begitu ya, yah?” Aulia menegaskan pertanyaannya diiringi mimik percaya diri nan lucunya.
Berarti dengan begitu, pada usia 5 tahun, Aulia telah mengingat persis jalan yang dilewati menuju rumah neneknya di Tebet dari arah Perumnas Klender, bukan?  Alhamdulillah hal ini merupakan salah satu bukti kecerdasannya!




Pertama kali Bersekolah, Saatnya Bersosialisasi!



Waktu berlalu, anak-anak pun kian bertumbuh.  Genaplah Rahmi berusia 3 tahun, belajar di rumah, sepertinya sudah cukup memadai pada usianya.  Kami, saya dan suami, fikir sudah saatnya Rahmi mulai bersosialisasi.  Bukan target menjadi anak terpintar yang kami cari, tetapi mengingat Rahmi sangat pemalu dan agak sulit dalam bersosialisasi dengan orang baru.  Maka, kami pun memasukkannya ke sebuah TamanPendidikan Al Qur’an (TPA) Al Furqan dekat rumah.

Belajar menari mengembangkan potensi diri
Sumber: Zun zun, Pexels.com

Saatnya bersekolah di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA)

Kami ingin Rahmi dapat mengenal dan bergaul dengan teman-teman sebayanya.  Bagi kami, bersosialisasi merupakan hal yang penting bagi anak-anak seusia Rahmi, sehingga pada saat mengikuti pendidikan selanjutnya, ia tidak akan mengalami kesulitan yang berarti.  Di TPA ia juga mempelajari tentang karakter cinta Tuhan, kemandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri, serta kerjasama.

Hari pertama di TPA bersama Aulia

Di hari pertamanya bersekolah di TPA Al Furqan, Rahmi bersemangat pergi bersekolah.  Saya mengantarnya ke sekolah sambil menggendong adiknya, Aulia yang baru berusia 2 tahun.  Rahmi semangat ke sekolah, karena diantar oleh bunda dan Aulia.  Sedangkan Aulia semangat mengantar ke sekolah, karena bisa bermain di TPA kakaknya!
Saya tidak merasakan kesulitan pada hari pertama sekolahnya Rahmi, karena anak-anak sudah dibiasakan bangun pagi sejak bayi, setelah kami, orangtuanya mandi dan shalat Subuh.  Hal ini berdasarkan pengalaman saya, ketika kecil dan tidak ingin hal itu terjadi.  Pada saat itu saya melihat adik sepupu yang terbiasa bangun siang, membuat ibunya repot membangunkan. Ia terus menerus menangis, walaupun telah mengenakan seragam sekolah, karena kesal dibangunkan pada pagi hari!  Ketika melihat hal itu, saya berjanji dalam hati, hal itu tidak terjadi pada keluarga saya kelak!
Terbiasa bangun pagi dan shalat Subuh setelahnya, membuat anak-anak tidak kaget ketika harus bepergian pada pagi hari, bahkan ketika harus bersekolah!  Baik Rahmi maupun Aulia sangat bersemangat bangun di pagi hari, walaupun berbeda tujuan, he he he.  Rahmi anak yang mandiri, setelah mandi, shalat Subuh, ia pun saya bantu mengenakkan baju untuk sekolah. 
Sementara saya memandikan dan mempersiapkan Aulia, Rahmi akan menyantap sarapan pagi dan menyuap makanannya sendiri, berupa nasi, lauk, dan sayur, tanpa banyak cakap.  Dan hebatnya, ia menghabiskan makanannya sendiri tanpa diawasi!  Hebat untuk anak usia 3 tahun
Setelah Aulia rapi, saya membantu Rahmi menyiapkan bekal makanannya, berupa roti atau pun snack, berikut air minum di botol yang ia bawa ke TPA.  Rahmi sangat ceria berangkat bersama adiknya!
Sesampai di sekolah, Rahmi kembali pada kebiasaannya, wajahnya tanpa ekspresi, dia hanya memperhatikan teman-temannya bermain dan berlari-larian di TPA.  Rahmi lebih suka duduk dekat guru/ustazahnya.  Ketika belajar mengaji, dia lebih memilih menunggu giliran, sambil duduk dekat ustazahnya, sementara teman-temannya yang lain sibuk mengobrol atau pun berlari-larian.  Namun, begitu dia mengaji dengan lancer, Alhamdulillah…
Pada saat istirahat, Rahmi akan duduk dengan tenang di bangkunya, dan menghabiskan bekal makanan yang dibawa.  Hmm… jadi ingat ketika saya sekolah di Taman Kanak-Kanak, sementara teman-teman yang lain sibuk bermain dan berlari-larian, saya akan sibuk sendiri dengan mainan atau kegiatan yang dipilih.  Jadi, tak heran dengan sikap Rahmi yang seperti itu, saya pun dulu bersikap seperti itu, tidak suka aktivitas berlari-larian, lebih suka beraktivitas sendiri, seperti bermain boneka, main ulek-ulekan sendiri.
Walau bagaimanapun kami orang tuanya tetap berusaha melibatkan teman Rahmi, dengan menanyakan teman-teman di kelasnya, walaupun tidak mendapatkan respon yang cukup.  Rahmi suka bernyanyi, mewarnai, belajar menulis, maupun berhitung.  Saya kerap mengajarkan Rahmi dan Aulia dengan berbagai lagu anak-anak yang layak bagi usianya, selain mengenalkan lagu Bahasa Indonesia, juga mengenalkan lagu Bahasa Inggris.  Mereka pun ikut bernyanyi dengan antusias dan ceria sambil bergaya masing-masing!
Aulia kerapkali mengganggu Rahmi yang asyik dengan buku dan crayonnya, untuk itu saya membelikannya pula buku mewarnai dengan gambar yang sesuai untuk anak laki-laki.  Tetapi, berbeda dengan Rahmi yang dapat lebih lama bertahan dengan pekerjaan yang dilakukan, Aulia lebih senang berlari-larian, kemudian menjatuhkan barang-barang yang ada di sekitarnya.  Hal ini membuat rumah seringkali berantakan.  O, iya, sejak Aulia berusia 3 bulan kami tinggal di rumah mami saya, karena mami selalu khawatir dengan anak-anak, ketika saya dan suami bekerja.
Mami (ibu saya) yang hanya memiliki 4 anak perempuan, agak kaget ketika menjaga Aulia. 
Menurut beliau,”O, begini ya kalau punya anak laki-laki (rumah jadi berantakan)!” Hal ini dikatakan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, karena hampir setiap barang dijatuhkan dan disebar oleh Aulia!  Sabar ya Mami!  Mainan mobil-mobilan, truk dan tanknya di susun dari satu sisi rumah menyeberang ke sisi rumah lainnya. Berantakan, bukan?

Selalu menyantap makanan sampai habis, tidak bersisa

Ketika saya dan suami bekerja, maka Rahmi diantar oleh neneknya atau tantenya ke sekolah.  Karena Rahmi selalu menyantap makanan bekalnya dengan tertib, maka salah satu ibu yang mengantar puteranya ke TPA tersebut menyatakan kekagumannya.
“Wah, Rahmi pintar ya, selalu menghabiskan bekalnya sampai habis, tidak sambil berlari-lari!” ujarnya.
“Alhamdulillah”, jawab saya, ketika mengantarkan Rahmi ke TPA.
Bukan hanya menghabiskan roti atau snack, Rahmi pun mampu menghabiskan nasi rames pakai rendang yang terkenal pedas, dengan menyuap sendiri pada usia 3 tahun, lho!  Nasi dan lauk pauk yang dimakan, tidak berantakan pula!  Hal ini terjadi, ketika saya mengajak Rahmi ikut bekerja di hari Minggu, ketika itu saya bertugas mengawasi kelas para karyawan Bank Negara Indonesia (BNI) yang sedang kuliah.
Ketika Rahmi sedang menyuap nasi rames pakai rendang, seorang mahasiswi mendekati dan memperhatikan cara menyuap makanannya yang lucu, dan tidak berantakan.  Iya, Rahmi menyuap makanan dengan tangannya sendiri!  Ketika mahasiswi tersebut mendekatinya, ia pun dengan ‘cuek’ melanjutkan aktivitas makannya sampai selesai!  Mahasiswi tersebut geleng-geleng kepala menyaksikan hal tersebut, sambil menahan senyumnya.
Namun, begitu Rahmi tetap sulit diajak berkomunikasi oleh orang baru.  Suatu kali teman kerja saya berusaha mengajak mengobrol Rahmi, setelah sekitar 2,5 jam, barulah ia menanggapi obrolan teman saya tersebut!  Itupun dengan bantuan saya, agar Rahmi menanggapi godaan dan obrolannya!  Wow, banget, bukan?
Namun, begitu, Rahmi tetap senang dan bersemangat diajak ke kantor saya, kalau sedang memungkinkan, lho!  Sambil menunggu saya bekerja, ia akan mewarnai, memnjam komputer (kalau sedang tidak digunakan), atau pun sekedar mendengarkan musik.  Mungkin baginya, ikut bunda ke kantor, merupakan salah satu jenis rekreasi, he he he. 
Setelah dari kantor, saya akan membelikannya kue kesukaannya yang akan dimakan di perjalanan pulang nanti.  Atau juga saya akan membekalinya dengan kue maupun snack kesukaannya yang akan dimakan selama perjalanan pergi dan pulang kantor, serta selama menanti saya bekerja.
Bukan saya saja yang suka mengajak Rahmi, jika bekerja di waktu luang.  Neneknya, mami saya, juga senang mengajak Rahmi jika pergi ke rumah temannya untuk arisan.  Rahmi pun selalu senang ikut berpergian, walaupun tidak banyak bicara.  Sekali-kali akan keluar untaian kalimat, cerita tentang pengalamannya bepergian kepada ayahnya.  Ya, Rahmi suka menceritakan pengalamannya kepada ayahnya.  Ayahnya adalah sosok terganteng, sosok hero di dalam hidupnya, tempat bercerita baginya!




Kehamilan Anak yang Kedua, Hadiah yang Tak Terduga!


Baru saja Rahmi bisa berjalan, saya sudah merasakan rasa mual, pusing, dan lemas lagi.  Tidak terfikir, bahwa saya hamil kembali untuk anak yang kedua.  Hanya agak kesal, mengapa saya menjadi selemah ini, setelah mempunyai anak?  Tidak menunggu lama, ketika suami pulang dari bekerja, saya pun menceritakan hal ini.  Suami pun menjanjikan untuk membelikan test pack, siapa tahu saja, hamil lagi?


Kakak dan adik bayi
Sumber: Pixabay, Pexels.com

Hadiah yang tak terduga!


Esok harinya, seperti yang dijanjikan, pulang bekerja, suami membawakan 2 buah test pack.  Mengapa 2?  Untuk lebih meyakinkan lagi, katanya.  Maka dengan rasa penasaran yang membuncah, ketika bangun tidur, saya langsung membawa test pack ke kamar mandi untuk mengetes air seni di pagi hari sebelum beraktivitas atau minum, makan apapun.  Wow, garis dua!  Bersyukur, sekaligus bingung, saya dibuatnya.  Mengapa tidak?  Kondisinya saat itu, spiral masih ada di rahim saya!
Bukankah salah satu manfaat spiral, untuk menjarangkan kehamilan?  Dan sebenarnya saya juga belum boleh hamil saat itu, karena sebelumnya operasi caesar, sebaiknya menunggu 2 tahun terlebih dahulu, baru hamil anak kedua.  Bagaimana nasib anak kedua saya, dengan adanya spiral di rahim saya, apakah tidak membahayakan?  Yah, pertanyaan yang berjejal di otak saya, harus dijawab oleh orang yang ahli di bidangnya, dokter kandungan!
Suami dan saya pun sepakat untuk kontrol ke dokter kandungan pada sore harinya, sepulang kami bekerja.
Setelah di check, dokter memastikan bahwa saya memang hamil anak kedua! 
“Dok, katanya angka keberhasilan spiral adalah 99%, koq saya bisa hamil”, demikian pertanyaan yang saya ajukan ke dokter.
“Ibu termasuk 1% yang gagal, jadi tetap hamil, walaupun menggunakan kontrasepsi spiral”, jawab dokter kandungan saya sambil tersenyum, “Jadi, apakah kehamilannya mau dilanjutkan, atau mau dihentikan?” tanya beliau kepada kami.
“Dilanjutkan saja, Dok, kalau dihentikan, nanti Allah tidak mempercayai kami anak lagi,” jawab saya yang di setujui oleh suami.  Hal ini mengingat kejadian yang pernah dialami oleh kakak ipar saya, menghindari hamil anak kedua, dengan alasan anak pertama masih kecil. Ternyata ketika sudah ingin memiliki anak lagi tidak dikabulkan oleh Allah.  Hal ini terjadi, walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin ke dokter ahli kandungan yang terkenal membantu ibu yang sulit punya anak.
“Dok, spiral tidak mengganggu kehamilan ini, kan?” tanya saya kembali.
“Tidak, kita jaga kandungannya”, sahut dokter lagi
Kami pun lega, mendengar jawaban dokter tersebut kembali, mengingat banyaknya rumor yang agak mengkhawatirkan terkait dengan kehamilan yang masih ada spiral di rahimnya.  Fixed, Rahmi akan punya adik!
Satu pekerjaan rumah (PR) bagi kami, mempersiapkan secara mental bagi Rahmi akan kehadiran calon adiknya!

Memperkenalkan calon adik kepada Rahmi

Secara perlahan kami pun memperkenalkan calon adik bayinya kepada Rahmi, entah ia mengerti atau tidak, bahwa ia kelak akan memiliki seorang adik bayi!
Saya mengenalkan calon adik bayi kepada Rahmi lewat buku Ayah bunda tentang perkembangan bayi di dalam rahim yang dimiliki sejak kehamilan pertama.  Saya memperkenalkan calon adiknya secara perlahan-lahan sambil bermain dengannya, dimulai dengan perkembangan janin dari hari ke hari.   Sambil membaca, tentunya saya juga memperkenalkan Rahmi dengan biologi lewat gambar dan huruf serta angka.  Tanpa disadari Rahmi belajar, tanpa ia merasa belajar, iya, kan?
Rahmi sangat antusias dengan buku tersebut, dan juga tentunya dengan perkembangan calon adiknya!  Rahmi anak yang pintar, ia dapat menyerap informasi dengan mudah, namun, ia tidak mudah dekat dengan orang lain, kecuali yang biasa dekat dengannya.  Ia sangat jarang tersenyum kepada orang yang baru dikenal, hanya bisa tersenyum kepada orang-orang yang biasa disekitarnya.

Mual dan muntah yang berkepanjangan

Pada kehamilan kedua ini ditandai dengan dirasakannya gerakan bayi lebih awal, yaitu sekitar usia 4 bulan.  Sedangkan ‘morning sickness’ 3 bulan pertama berlanjut pada usia kehamilan 4 sampai dengan 7 bulan.  Hal ini karena bayi pada rahim menekan lambung menurut dokter, sehingga muntah-muntah.  Bayi kedua saya ini relatif lebih panjang dan gerakannya lebih aktif. 

Perbedaan kehamilan pertama dan kedua

Bentuk perut berbeda dengan kehamilan pertama. Bentuk perut saya pada kehamilan pertama lebih melebar, sedangkan bentuk perut pada kehamilan kedua lebih membuncit. Apakah  hal ini karena kehamilan pertama adalah bayi perempuan, sedangkan kehamilan anak kedua adalah bayi laki-laki?  Wallahu ‘alam.
Kulit saya pada kehamilan pertama sangat bersih dan halus, sehingga terlihat sangat cantik (kata orang yang melihat, lho!).  Tetapi pada kehamilan kedua, kulit saya kusam dan agak kasar, juga lebih malas berdandan.  Itulah perbedaan kehamilan pertama dan kedua yang dirasakan.
Yang jelas, baju, popok, celana, serta perlengkapan bayi lainnya, lebih banyak yang diturunkan dari kakaknya, dari pada beli sendiri.
Semakin besar kandungan saya, Rahmi semakin antusias dengan kelahiran adiknya, dia membantu mempersiapkan keperluan adiknya.  Kadang-kadang dielusnya perut saya, dan mengajak adiknya bicara.  Alhamdulillah Rahmi tidak cemburu dengan adiknya!
Ranjang bayi yang dulu digunakan Rahmi, kembali dipersiapkan untuk adiknya.  Perut saya yang makin membesar, makin membuat lelah, juga bersyukur.

Menderita Typhus

Kondisi pekerjaan yang cukup berat, ditambah dengan tidak adanya asisten rumah tangga sejak usia kehamilan 7 bulan, serta harus mengasuh anak berusia 1 tahun.  Hal ini membuat asupan gizi ke tubuh saya tidak sebaik ketika hamil Rahmi.  Pada akhirnya saya menderita Typhus, yang mengakibatkan harus dirawat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.  Namun, dokter saya tidak berani memberikan obat berdosis tinggi, karena saya sedang hamil dan obat-obatan tersebut bisa membahayakan kehamilan!

Minum air rumput fatimah

Pada saat usia kandungan menjelang 9 bulan, saya disarankan seorang tetangga untuk meminum air rumput Fatimah, yang akhirnya membuat saya merasa mulas karena kontraksi.  Segera suami mengantarkan ke rumah sakit. 
Ketika memeriksa kandungan ke dokter kandungan, maka dokter yang sudah berusia setengah baya, tetapi tetap gagah itu menegur saya,”Ibu…Ibu tahu? Apabila sebelumnya melakukan operasi caesar, akan sangat membahayakan rahim Ibu, jika minum air rumput Fatimah?”
Lanjut dokter,”Karena kita tidak tahu dosis dari air rumput Fatimah tersebut!  Dan bisa mengakibatkan rahim Ibu robek!  Ibarat balon gas yang sudah diplester, kemudian ditiup, tentu balonnya akan meledak, bukan?”
“Wow, robek?” hiiii seram sekali membayangkannya, berarti, kan, bisa membahayakan jiwa saya sendiri, bukan?  Alhamdulillah yaa Allah, saya masih dilindungi!  Yap, saya berjanji, tidak akan sembarangan minum apapun, apalagi yang bisa membahayakan jiwa sendiri!

Lahirnya bayi kedua!

Akhirnya pada pertengahan Agustus 2001, lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng dan memiliki gambar cambang di kedua sisinya! Wow, laki-laki sekali!  Rahmi datang ke rumah sakit bersama ayahnya, sambil menatap tidak mengerti, mengapa Bundanya dirawat di rumah sakit?  Ia hanya duduk di tempat tidur.  Mungkin ia ingin melihat adik laki-lakinya, Aulia.  Semoga Aulia, sang bayi hadiah tak terduga, menjadi anak yang sholeh dan menjadi anak yang dibanggakan keluarga, bangsa, dan negara!  Aamiin Yaa Rab…




#Blogjadibuku
#Day9

Hari-Hari Ceria Bersama Anak Pertama, Menyenangkan dan Melelahkan, Tetapi Tetap Membahagiakan!



Mendapatkan anak pertama yang cantik, berwajah bulat, dan lucu, serasa menghapuskan rasa lelah yang dirasakan pada saat mengandungnya.  Yang tertinggal adalah pemulihan kembali setelah operasi caesar.
Ibu dan bayi
Sumber: iconO.com, Pexels.com


Pemulihan setelah operasi caesar dan belajar untuk mengasuh anak sendiri

Masa pemulihan

Setelah operasi caesar, saya harus belajar kembali, belajar untuk berbaring menghadap kanan, belajar berbaring menghadap kiri, belajar untuk duduk.  Bagi orang yang sehat, semua hal tersebut dapat dilakukan dengan mudah.  Namun, bagi seorang ibu yang baru beberapa hari melakukan operasi caesar?  Hal itu merupakan perjuangan yang cukup berat!  Namun, jika tidak berlatih, maka luka jahit bekas operasi akan menjadi kaku, tentunya akan menyulitkan ibu untuk bergerak.  Hal ini karena luka operasi berada pada daerah lipatan di bawah perut!

Setelah bisa duduk dengan baik, maka saya pun mulai belajar berjalan dan mandi sendiri.  Hal yang awalnya agak sulit dilakukan, tetapi harus saya latih terus, agar terbiasa! Saya pun mulai berlatih berjalan, dari jendela rumah sakit di lantai 3, terlihatlah lalu lintas jalan yang dipenuhi oleh mobil yang tak pernah berhenti.  Wow, ternyata begitulah aktivitas saya sehari-hari ketika masih sibuk bekerja, termasuk salah satu dari memadati arus lalu lintas ini!
Untuk mengisi waktu, saya juga berjalan-jalan ke kamar bayi untuk melihat bayi-bayi yang berada disana, yang salah satunya bayi cantik kami.  Pada masa ini mulailah mencoba untuk lebih mendekatkan diri dengan bayi kami, serta lebih memperhatikan tentang perawatan bayi.  Di rumah sakit, bayi lebih banyak dirawat oleh perawat bayi, sambil saya berusaha untuk memulihkan kesehatan diri.
Tibalah waktunya untuk pulang ke rumah, sebelumnya perawat menanyakan, apakah bayi saya akan dikhitan dan ditindik?  Setelah membicarakan hal tersebut dengan suami, maka suami pun menyetujui hal tersebut.   Setelah selesai, maka kami pun bersiap pulang bersama kakak ipar.  Disepakati untuk sementara kami akan tinggal di rumah mertua dahulu, sampai kondisi memungkinkan.  Tempat tidur bayi sudah disiapkan di kamar yang akan kami tempati di bagian depan rumah mertua.
Terbiasa tidur di ruangan perawatan di rumah sakit, agak membingungkan bagi saya ketika tinggal di rumah mertua, sehingga perlu penyesuaian diri kembali, terlebih dengan kehadiran bayi kami.  Di malam hari, bayi kami bangun setiap jam sekali untuk minum ASI (Air Susu Ibu), yang berarti berkurangnya waktu istirahat saya sebagai ibu.  Esok paginya, tiba waktunya memandikan Rahmi, namun suami dengan sigap memandikan puteri kami untuk pertama kalinya.  Saat itu, saya masih merasa takut dan khawatir jatuh, kalau memandikan Rahmi.

Merawat anak pertama yang baru lahir dan penyesuaian diri di rumah mertua

Saya perhatikan cara suami memandikan Rahmi dengan seksama, tentunya saya tidak dapat mengandalkan suami selamanya, bukan?  Sedangkan membersihkan tali pusat Rahmi serta memakaikan popok dan baju, saya lakukan sendiri.  Ternyata ada masalah baru, saya terbiasa sarapan di pagi hari, sebelum pukul 7 pagi, apalagi harus memberikan ASI agak sering, tentunya membuat cepat lapar.  Sedangkan mertua terbiasa sarapan pagi pukul 8 pagi, aduh perut saya jadi terasa perih, mau sarapan lebih dulu, nggak enak dengan mertua!
Begitu juga dengan saatnya makan siang, mertua terbiasa makan siang pukul 1 siang, tetapi saya sudah lapar pada pukul 12 siang.  Hal seperti ini sangat mengganggu bagi saya, karena harus menahan lapar, sementara jadual menyusui agak sering, karena Rahmi sering merasa lapar.  Ketika suami pulang bekerja, maka saya utarakan hal tersebut.  Sebagai solusi, maka suami menyimpan makanan di kamar, agar dapat saya makan, menjelang saatnya jadual makan bersama, selesailah satu masalah, tanpa menjadi masalah besar!
Tinggal di rumah mertua, maka saya harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang ada.  Karena ketika malam, saya sering bergadang untuk memberikan ASI kepada Rahmi, tentunya pada saat pagi hari, saya menjadi mengantuk.  Suami pun meminta saya, pada saat pagi hari untuk keluar sebentar dan ikut nimbrung menonton TV bersama mertua sejenak, dan jika Rahmi menangis bisa kembali ke kamar untuk beristirahat.
Setelah memberikan ASI ke Rahmi, saya pun berbaring sejenak, rasanya nyaman dapat berbaring sejenak, karena bayi cantik ini rewel hanya ketika haus, popoknya basah, karena buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB), atau pun ketika mengantuk, selebihnya dengan tenang dia pun tertidur.  Tali pusat Rahmi lepas pada saat ia berumur 11 hari, pada saat itu pula ia diajarkan untuk tengkurap.  Namun, ketika di letakkan dalam posisi tengkurap, dengan segera dia membalikkan dirinya ke posisi telentang sambil menangis. 
Pakdenya yang melihat hal itu menggeleng-gelengkan kepala, sambil bilang.”Wah, ini anak pasti keras kepala!” Saya yang ikut melihat polah Rahmi, ikut tertawa, karena dia berhasil membalikkan tubuhnya dengan usahanya sendiri!  Rahmi tidak suka digendong dalam posisi tidur, ia akan menangis, tetapi ia akan senang digendong dalam posisi berdiri!  Pada saat itu, ia akan menegakkan kepalanya!  Wah, dia benar-benar sudah mau melihat dunia luas!  Matanya akan memandang tajam ke orang yang ada di sekitarnya, seperti benar-benar ingin mengenal orang di sekitarnya!
Rahmi juga bayi yang tak sabaran (tentu saja, dia kan, masih bayi?), terlebih kalau lagi haus, tak peduli kalau bundanya masih belum siap memberikan ASI, ia akan menangis keras!  Seringkali ketika ia sudah dimandikan, dan sedang dipakaikan popok dan bajunya, ia buang air kecil dan membasahi popok dan bajunya kembali.  Terpaksa saya mengulang urutan memakaikan baju dan popok padanya, akibatnya, waktu pemberian ASI pun tertunda, wow, ia akan menangis keras sekali!  Alhamdulillah tidak ada komentar dari mertua, karena tangisan Rahmi ini!  Kalau tidak, tentunya saya akan stress sekali!
Mungkin masa inilah yang rentan dihadapi oleh ibu menyusui sebagai ‘baby blues’.  Masa ketika ibu muda lelah mengurus bayinya yang baru lahir, tetapi kurang dukungan dari suami, serta keluarganya, bahkan di ‘nyinyiri’ oleh orang di sekitarnya.
Suami dan keluarga selalu mendukung saya, hal ini yang diperlukan oleh ibu yang baru memiliki bayi. Sehingga ‘ibu baru’ dapat mengatasi rasa lelahnya, dengan rasa bahagia memiliki anak yang mendominasi.  Yah, rasa syukur dan bahagia, tentunya dapat mengatasi rasa lelah, terlebih bayi sangat tergantung kepada ibunya, apapun yang terjadi!
Rahmi sangat rentan kalau dibawa keluar rumah, ia akan masuk angin dan mencret-mencret, bingung juga saya, teringat pada saat hamil, saya sering menderita masuk angin.  Kami jadi jarang mengajak Rahmi keluar rumah berjalan-jalan, kalau pun keluar rumah, ia akan diberikan pakaian yang tertutup agar tidak masuk angin!
Sampai suatu saat, Rahmi diajak renang ke sebuah sports center, saya sebagai ibunya cukup waswas, khawatir ia akan masuk angin lagi.  Maka sebelum renang, saya oleskan minyak tawon ke seluruh tubuhnya!  Jadilah, Rahmi berbau khas minyak Tawon!  Alhamdulillah, esoknya Rahmi tak lagi masuk angin!



#Blogjadibuku
#Day7